Persibo, Menuju Tata Kelola Sepak Bola Modern

Oleh: Sally Atyasasmi

Pengurus Persibo Bojonegoro dan anggota DPRD Kabupaten Bojonegoro

 

(Tulisan ini telah dipublikasikan di Koran Jawa Pos – Radar Bojonegoro, 26 Februari 2017)

Piala Dirgantara 2017 akan digelar di Yogyakarta pada 27 Februari-8 Maret 2017. Persibo Bojonegoro menjadi salah satu peserta turnamen pra-musim tersebut bersama 7 klub lain dari kasta yang berbeda-beda, yaitu Persebaya Surabaya, Persikama Kabupaten Magelang, Persiba Bantul, Cilegon United FC, PSN Ngada Flores, Perseru Serui dan Persbul Buol.

Bagi Persibo, keikutsertaan dalam turnamen ini memberikan beberapa arti: Pertama,  menunjukkan eksistensi selaku klub sepakbola setelah pemulihan sanksi yang disahkan dalam Kongres Tahunan PSSI di Hotel Aryaduta Bandung, 8 Januari 2017. Sanksi itu dijatuhkan setelah Persibo memutuskan mengikuti Liga Primer Indonesia (LPI) yang disebut PSSI sebagai breakaway league pada 2010. Sanksi yang  cukup lama tersebut telah membenamkan Persibo dalam situasi antara “ada” dan “tiada” karena imbas sanksi yang tidak memberikan ruang bagi klub untuk menjalani kompetisi atau melakukan pertandingan resmi yang diakui oleh federasi.  Akibatnya, banyak pemain bagus atau berbakat yang mencari klub lain. Dampak lainnya, aspek pembinaan pemain muda pun terganggu.  Karena itu, kesempatan mengikuti pertandingan resmi setelah pemulihan sanksi, merupakan momentum strategis bagi Persibo untuk bangkit dan menunjukkan eksistensinya di hadapan federasi, klub-klub lain serta supporter.

Kedua, keikutsertaan turnamen ini juga menjadi ajang konsolidasi di internal manajemen klub, internal supporter maupun antara manajemen klub dengan supporter. Tidak dapat dipungkiri, imbas sanksi juga berdampak pada keduanya. Pengelolaan maupun kepengurusan sempat mengalami beberapakali perubahan. Saat ini, dibawah pengelolaan PT Semangat Bojonegoro Jaya, kepengurusan berisi wajah-wajah baru dan didominasi oleh kalangan muda. Manajemen dan pengurus baru tersebut, tentu memerlukan waktu untuk konsolidasi internal maupun hubungannya dengan supporter. Karena itu, partisipasi dalam turnamen ini dapat menjadi perekat bagi soliditas internal manajemen/kepengurusan dan juga antara pengurus dengan supporter.

Tantangan

Pencabutan sanksi laksana oase yang memberikan kesejukan bagi manajemen maupun supporter. Namun disisi lain juga menyiratkan beragam tantangan, yaitu: Aspek finansial menjadi problem yang terpapar jelas didepan mata. Ketika sepakbola telah menjadi industri, maka aspek finansial menjadi bagian penting yang harus disiapkan. Sebagai illustrasi sederhana, klub harus memiliki dana untuk membiayai pengeluaran antara lain untuk kontrak pemain dan pelatih, sewa stadion, biaya latihan, biaya mengikuti kompetisi-termasuk operasional pertandingan, turnamen pra-musim, biaya operasional kantor dan sebagainya. Setidaknya dalam satu musim kompetisi di Indonesia, sebuah klub harus menyediakan dana sekitar 7-8 milliar rupiah. Angka tersebut dapat bertambah besar jika klub mengontrak pemain bintang dan sistem kompetisi home and away tanpa pembagian wilayah.

Selepas dari APBD, tidak mudah bagi sebuah klub, apalagi klub bawah atau medioker untuk mendapatkan pendanaan dari sponsor atau sumber pendanaan lainnya. Banyak kasus, klub mundur dari kompetisi karena faktor finansial bahkan yang lebih tragis, klub menunggak pembayaran gaji pemain. Sumber pendapatan lain seperti tiket pertandingan, match fee, pembagian hak siar televisi, penjualan merchandise, masih belum mampu mencukupi 100% kebutuhan pendanaan klub. Rata-rata sponsor juga lebih banyak yang memberikan sponsorshipnya dalam bentuk barang, bukan cash money.

Bagi Persibo, belum lagi jauh bicara sampai kompetisi Liga Nusantara, untuk memenuhi undangan mengikuti turnamen pra-musim Piala Dirgantara 2017 juga tidak mudah. Ibarat orang baru saja pulih dari sakit dan masih dalam tahap recovery, sudah diajak berlari tentu bernafas pun masih tersengal-sengal. Namun, mudah atau tidak, langkah mengikuti turnamen merupakan pilihan yang harus dilakukan untuk mengoptimalkan momentum strategis bagi kebangkitan Persibo.

Tantangan lainnya adalah manajemen yang profesional. Dalam situasi saat ini, klub membutuhkan tidak hanya orang-orang yang mencintai sepakbola, namun juga sekaligus memiliki kemampuan mengelola organisasi, memiliki jejaring kuat dan kemampuan menjalankan bisnis. Klub tidak dapat lagi dikelola dengan cara tradisional dan hanya mendasarkan diri pada sentimen emosional kecintaan pada sepakbola atau klub itu sendiri. Konsekuensi sepakbola menjadi industri, klub harus dikelola dalam perspektif bisnis.  Menurut Mohit Singh, manajemen organisasi modern dalam olahraga harus memiliki kompetensi dari sisi budgeting, accounting, managing personnel, managing facilities, controlling, directing, coordinating, evaluating and leading. Sedangkan dari sisi manajemen informasi, kompetensi yang harus dimiliki adalah selling-promoting, fund rising, working with media-developing publications, dan sebagainya.

Politisasi sepakbola merupakan problem lain yang harus dikelola. Sebagai olahraga yang paling populer dengan penggemar fanatik dari segala lapisan masyarakat, sepakbola menjadi magnet luarbiasa bagi pihak-pihak yang ingin mengambil keuntungan yang sesungguhnya tidak bersinggungan dengan kemajuan sepakbola itu sendiri. Politisasi ini tidak selalu identik dengan keberadaan pengurus yang berlatarbelakang politisi, namun lebih pada adanya upaya-upaya untuk memanipulasi sepakbola bagi kepentingan pragmatis, sesaat dan tidak berkaitan dengan sepakbola. Hal itu dapat dilakukan baik oleh politisi maupun non-politisi.  Godaan ini sangat besar dan kadang sulit dielakkan, acapkali menjanjikan solusi sesaat dalam sisi finansial namun disisi lain juga berpotensi menyeret klub dalam pusaran konflik tarik menarik kepentingan politik.  Konflik ditubuh federasi beberapa waktu lalu tentu harus dapat dijadikan pembelajaran bagi Persibo.

Langkah ke depan

Melihat kondisi tersebut, mau tidak mau Persibo  harus berbenah. Visi besar yang harus menjadi dasar pembenahan adalah menuju tata kelola klub sepakbola modern. Banyak pengalaman negara lain dapat dijadikan pembelajaran, misalnya; sejarah panjang perbaikan pengelolaan klub di Brazil mulai dari penerapan Zico Law maupun Pele Law dapat memperbaiki keterpurukan klub-klub sepakbola Brazil yang disebabkan oleh krisis finansial. Pelajaran lain dapat diambil dari negara yang lebih dekat, Thailand misalnya, yang menggulirkan kompetisi sepakbola profesional Thai Premier League (TPL). Intinya adalah klub harus dikelola dalam perspektif bisnis. Karena itu, kemampuan pengelolaan keuangan harus dimiliki manajemen klub yang harus dapat mengoptimalkan potensi pendapatan setidaknya dari sisi eksploitasi komersial klub, tiket pertandingan, hak siar maupun sponsorship. Langkah menuju kesana tentu masih memerlukan dukungan banyak pihak, terutama federasi dan pihak-pihak lain yang peduli pada sepakbola.

Hal lainnya adalah mengelola hubungan yang saling memberikan manfaat dengan supporter. Dukungan supporter sangat fundamental bagi klub olahraga, namun dukungan itu harus dapat dikelola secara profesional sehingga tidak merugikan klub maupun supporter itu sendiri. Saat ini, sudah tidak jamannya lagi terjadi kerusuhan antar supporter atau penonton yang enggan membeli tiket dan sebagainya.  Disisi lain, manajemen klub juga harus dapat memberikan nilai tambah bagi supporter, misalnya kemudahan akses dan kenyamanan untuk menonton pertandingan sepakbola, pengelolaan merchandise atau bahkan sampai sharing saham kepemilikan klub atau kerjasama mata rantai bisnis lainnya dalam sepakbola. Langkah diatas tentu tidak semudah membalikan telapak tangan dan tidak mungkin dapat tercapai secara instan. Oleh karena itu, konsistensi, komitmen dan stamina dalam menjalankan sepakbola menjadi syarat mutlak yang harus dimiliki manajemen dan supporter.

Persibo telah memiliki modal sosial yang baik. Sejarah mencatat, Laskar Angling Dharma ini mampu menjuarai Kompetisi Divisi Utama PSSI 2009/2010 sekaligus mengantarkan masuk ke kasta tertinggi sepakbola Indonesia, Liga Super Indonesia (LSI). Prestasi lainnya adalah menjuarai Piala Indonesia 2011/2012. Jejak-jejak prestasi tersebut tidak mungkin terhapus dalam catatan sejarah persepakbolaan Indonesia maupun khususnya bagi rakyat  Bojonegoro. Jejak itu sekaligus membuktikan bahwa dengan Persibo memiliki potensi lokal yang jika dikelola dengan baik mampu menaklukkan kerasnya kompetisi di liga sepakbola Indonesia.

Hal lain yang dapat menjadi inspirasi bagi kebangkitan kembali Persibo adalah pemahaman mengenai olahraga, sebagaimana dikemukakan oleh Nelson Mandela,   Sport has the power to change the world. It has the power to inspire, the power to unite people that little else has. It is more powerful than governments in breaking down racial barriers.  Selamat mengikuti Piala Dirgantara 2017, maju terus Persibo!

 

By | 2017-11-21T03:26:42+00:00 November 18th, 2017|Headline, Persibo|0 Comments

About the Author:

Leave A Comment

%d bloggers like this: