Persibo, Jejak Langkah Menatap Liga

Comments: No comment

Oleh: Sally Atyasasmi

Pengurus Persibo dan Ketua Fraksi Partai Gerindra DPRD Bojonegoro

 

(Tulisan ini telah dipublikasikan di Jawa Pos – Radar Bojonegoro, 23 April 2017)

Pertandingan persahabatan antara Persibo Bojonegoro dan Persema Malang pada 23 April 2017 merupakan partai pemanasan sebelum memasuki kompetisi resmi PSSI Liga Nusantara. Meskipun hanya berstatus partai persahabatan, Persibo mempersiapkan secara serius pertandingan ini. Begitupula suporter yang tergabung Boromania menyambut antusias.  Salah satu indikator keseriusan tersebut adalah dengan mengontrak mantan pemain nasional I Putu Gede sebagai pelatih baru, serta menyiapkan tim secara maksimal. Pertandingan ini juga memperlihatkan komitmen serius dari manajemen dalam mengelola klub sepakbola kebanggaan rakyat Bojonegoro.

Disisi penyelenggaraan, Persibo bekerjasama dengan Radar Bojonegoro sebagai event organizer (EO) yang telah memiliki pengalaman dalam penyelenggaraan beragam event. Bekal pengalaman tersebut membuahkan optimism bahwa pengelolaan pertandingan persahabatan ini akan terlaksana dengan baik. Pada sisi lainnya, dengan dukungan Pemkab Bojonegoro dan organisasi suporter serta pengamanan dari Polres Bojonegoro membuahkan harapan positif bahwa pertandingan akan berjalan secara aman, nyaman dan dapat  dinikmati oleh penggemar bola dari seluruh lapisan usia.

Pertandingan ini juga penuh sisi emosional mengingat kedua klub ini memiliki nasib yang relatif sama, yaitu terkena sanksi PSSI setelah mengikuti breakaway league. Dari sisi sejarah, Persema juga memiliki jejak panjang sejak didirikan pada tahun 1953.  Keduanya juga memiliki jumlah pendukung fanatik yang besar yang sudah lama merindukan klub yang dikdukungnya melakoni pertandingan resmi. Oleh karena itu, dapat dipahami jika atmosfer pertandingan persahabatan ini tetap akan menguras emosi kedua pendukung sejati kedua kesebelasan.

Paska pemulihan sanksi oleh PSSI, memang tidak banyak aktifitas Persibo yang diketahui publik kecuali partisipasi dalam turnamen Piala Dirgantara di Yogyakarta. Namun diluar itu, sebenarnya manajemen terus berbenah diri.

Pembenahan

Penataan di aspek tata kelola organisasi, penyiapan tim dan pendanaan menjadi prioritas utama pembenahan. Beberapa hal yang melatabelakangi adalah: Pertama, meskipun secara historis klub sepakbola ini sudah ada sejak 1949, namun secara faktual Persibo sekarang tak ubahnya sebagai organisasi yang baru dilahirkan. Secara manajerial, tim dikelola oleh orang-orang baru yang hampir semuanya tidak memiliki kaitan sejarah dengan Persibo dimasa lalu. Oleh karena itu, dapat dipahami jika manajemen baru harus bekerja lebih ekstra keras untuk menjaga beban sejarah tersebut. Disisi lain, secara aspek legal, Persibo tidak lagi berbentuk perserikatan namun merupakan organisasi profesional. Perubahan tersebut tentu memerlukan penyesuaian dalam banyak hal, misalnya tata kelola dan budaya organisasi yang tentu sangat berbeda antara amatir dan profesional.

Sebenarnya pemisahan antara amatir dan profesional itu pernah dicoba oleh PSSI di era tahun 1979 hingga akhir 1990an. Bergulirnya Kompetisi Liga Sepakbola Utama (Galatama) yang diikuti oleh klub-klub sepakbola semi profesional dan Kompetisi Perserikatan untuk tim amatir merupakan jejak awal membentuk liga sepakbola profesional tanpa harus mengesampingkan liga amatir.  Meskipun pada akhirnya gagal, namun sepatutnya upaya tersebut dijadikan pembelajaran bagi federasi mapun Persibo, khususnya dalam mengelola kompetisi dan klub sepakbola baik profesional maupun amatir.

Kedua, aspek pendanaan. Aspek ini sangat penting mengingat  Persibo bukan termasuk klub kaya. Sponsor masih menjadi harapan sumber pendapatan diluar penjualan tiket, merchandise dan potensi mendapatkan hak siar televisi.  Namun, menarik sponspor untuk menggelontorkan dana juga tidak mudah. Sejarah prestasi yang pernah diraih sebagai Juara Kompetisi Divisi Utama 2009/2010 dan memenangkan Piala Indonesia 2011/2012 belum cukup mampu untuk mendatangkan dukungan sponsor secara memadai. Terlebih saat ini, Persibo tidak lagi berada di kasta utama kompetisi sepakbola nasional. Tantangan tersebut tentu bukan untuk diratapi. Langkah yang dilakukan saat ini adalah optimalisasi sumberdaya yang tersedia, efisiensi segala lini, disiplin ketat pengelolaan finansial, dan fokus pada target kerja. Diluar itu, manajemen juga terus mencari dukungan sponsor maupun investor untuk bersinergi membangun Persibo.

Ketiga, persiapan tim untuk mengikuti kompetisi. Dalam sisi ini, hal yang dilakukan adalah menyiapkan kerangka tim, termasuk seleksi pemain, pelatih dan offisial. Persibo memprioritaskan seleksi pemain lokal untuk mengisi tim utama meskipun juga tidak menutup pintu untuk pemain diluar Bojonegoro. Termasuk dalam penyiapan tim adalah menyiapkan stadion untuk pertandingan resmi dan tempat berlatih, mess pemain, sekretariat, operasional kantor dan sebagainya.

Format Baru Kompetisi

Merujuk pada penjelasan PSSI, format kompetisi mengalami perubahan yang cukup drastis. Sebelumnya PSSI menjalankan kompetisi yang dibagi dalam beberapa kategori, yaitu Indonesia Super League (ISL) atau Liga Super Indonesia (LSI) sebagai kasta tertinggi, dan kemudian diikuti oleh Kompetisi Divisi Utama.  Diluar itu, terdapat kompetisi amatir mulai dari Divisi 3 sampai Divisi 1.  Sedangkan pada musim 2017, PSSI mengenalkan format baru yang disebut dengan Liga 1, Liga 2 dan seterusnya.  Dalam format ini, kasta tertinggi sebagai pengganti ISL adalah Liga 1 yang diikuti 18 tim, kemudian diikuti oleh Liga 2 yang akan diikuti 60 tim.

Selanjutnya, pada tahun 2018 peserta Liga 2 akan direduksi menjadi 24 tim.  Sebanyak 36 tim yang tersisa dari Liga 2 akan bermain di Liga 3 yang sebelumnya bernama Liga Nusantara, sedangkan klub yang sebelumnya bermain di Liga Nusantara akan bermain di Liga 4. Jadi pada musim 2018 akan ada 4 level kompetisi, yaitu Liga 1, Liga 2, Liga 3 dan Liga 4.

Sesuai keputusan PSSI, posisi Persibo saat ini berada di Liga 3 atau turun kasta jika dibandingkan dengan posisi yang pernah dicapai dalam kompetisi sebelumnya. Meski keputusan itu tidak sesuai harapan, namun tidak mengurangi semangat untuk untuk mengarungi kompetisi meski harus merangkak dari bawah. Kepercayaan dan semangat itu hal yang fundamental untuk meraih tujuan, sebagaimana dikatakan Neymar, the secret is to believe in your dream, in your potential that you can be like your star, keep searching, keep believing and don’t lose faith in yourself.

 

 

Tinggalkan Balasan