Mozaik Sepakbola Indonesia

Sally Atyasasmi*

Success is no accident. It’s a hard work, perseverance, learning, studying, sacrifice and most of all, love of what you are doing and learning to do (Pele). 

Sukses tidak pernah datang secara instan, itu kata kunci yang dikemukakan legenda sepakbola dunia, Edson Arantes do Nascimento alias Pele. Kerja keras, kemauan untuk terus menimba ilmu, ketekunan dan tekad kuat yang seringkali membutuhkan pengorbanan serta melakukannya dengan sepenuh hati merupakan prasyarat dasar untuk berprestasi dan meraih sukses, tidak hanya didunia sepakbola namun juga dalam kehidupan lainnya.

Sepakbola saat ini menjadi cabang olahraga terpopuler di dunia, termasuk di Indonesia. Meski menjadi olahraga paling populer dan sering juga disebut sebagai olahraga rakyat, namun tidak banyak literatur yang dapat dijadikan rujukan untuk membicarakan sepakbola Indonesia. Diantara kelangkaan referensi, buku the Politic of Indonesian Football (Freek Colombijn, 2000) menjadi sumber rujukan yang sangat memadai dan komprehensif. Freek memilah perkembangan sepakbola Indonesia sejak masa kolonial Belanda, penjajahan Jepang, masa awal Indonesia merdeka, era Orde Baru (Orba) dan kondisi terakhir pada saat buku itu ditulis.

Sekilas Sejarah

Dari buku tersebut dapat diketahui bahwa Sepakbola di Indonesia telah dikenal sejak jaman kolonial. The Padangsche Voetbal Club merupakan klub sepakbola pertama di Hindia Belanda, didirikan pada 1901 di Kota Padang, Sumatera. Dari sisi organisasi, pada 1919, dibentuk NIVB (Nederlandsch-Indische Voetbal Bond) untuk memayungi beberapa klub sepakbola yang sudah ada pada saat itu. Pada 1936 dibentuk NIVU (Nederlandsch-Indische Voetbal Unie) sebagai konsekuensi perbedaan pendapat dalam organisasi sebelumnya. Dalam perkembangannya, semangat perjuangan kemerdekaan telah menginspirasi terbentuknya PSSI (Persatuan Sepakraga Seluruh Indonesia) pada 1930, yang kemudian dibelakang hari mengalami perubahan nama menjadi Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia.

Sejarah juga mencatat, sepakbola menjadi bagian dari perjuangan melawan kolonialisme Belanda. Paska proklamasi kemerdekaan, ditengah upaya pendudukan kembali oleh Belanda Panglima Balatentara Pendudukan Jenderal SH. Spoor menggunakan sepakbola sebagai bagian dari propaganda politik dengan mendirikan kembali NIVU pada 1946, dan menggelar pertandingan sepakbola. Hal itu dilakukan untuk menunjukkan eksistensi pasukan pendudukan Belanda, situasi sosial politik yang terkendali, sekaligus memperlihatkan ketiadaan pemerintahan Republik Indonesia. Di sisi lain, Pemerintah Indonesia merespon propaganda politik tersebut dengan mendirikan PORI (Persatuan Olahraga Republik Indonesia) pada 1947, sepakbola menjadi salah satu departemen dalam organisasi tersebut. Pada 1950, departemen sepakbola PORI berubah menjadi PSSI kembali, dan setelah mengalami pergulatan panjang pada akhirnya dapat bergabung ke FIFA pada 1951.

Namun, sejarah panjang tidak berbanding lurus dengan prestasi yang diraih. Merujuk pada kekitaan.com, tidak banya prestasi yang diraih Tim Nasional (Timnas) Indonesia, yaitu:   Juara Turnamen Merdeka (1961, 1962 dan 1969) yang digelar oleh Malaysia, Juara Piala Raja 1968 di Thailand, Juara Piala Sukan 1972, Juara Piala Kemerdekaan  1987, turnamen yang dilakukan di Indonesia, Juara SEA Games (1987, 1991). Semua itu masih di level Asia Tenggara, diluar itu jejak langkah Indonesia masih tersengal-sengal. “Prestasi” lain yang dianggap melegenda adalah menahan imbang Timnas Uni Soviet di Olimpiade Melbourne 1956 meski pada pertandingan lanjutan kalah 0-4 dan bermain di Piala Dunia 1938 di Perancis atas nama Tim Hindia Belanda.

Saat ini peringkat Indonesia di rangking FIFA per 9 Februari 2017 menduduki nomor 169 dunia, masih kalah dengan tim negara lain di Asia Tenggara seperti Philipina (122), Thailand (127), Vietnam (136), Myanmar (159), Malaysia (162), Singapura (164) dan Laos (167). Terasa ironis mengingat pada masa lalu negara-negara tersebut masih kalah dengan Indonesia, termasuk tidak dapat “berbicara” banyak dilevel Asia Tenggara. Di level klub, prestasi di ajang internasional sebagaimana dalam catatan fourfourtwo juga tidak banyak, diantaranya Kramayudha Tiga Berlian (KTB) finis nomor 3 di Piala Champions Asia 1985/1986, Pelita Jaya Jakarta meraih hasil yang sama pada Piala Champions Asia 1990/1991, Persipura Jayapura masuk ke semifinal AFC Cup 2014. Klub-klub lainnya seperti Niac Mitra, Pelita Jaya Jakarta, Persib Bandung seperti numpang lewat dalam ajang internasional tersebut.

Pembenahan

Sebenarnya, kesadaran atas problem yang dihadapi sepakbola Indonesia telah ada dibenak praktisi sepakbola (federasi, klub, pemain, suporter), termasuk kehendak melakukan reformasi tata kelola sepakbola nasional. Namun melakukan pembenahan tersebut juga tidak mudah, beberapa tantangan yang harus dijawab antara lain;

Pertama, warisan sejarah bahwa sepakbola Indonesia dilahirkan sebagai bagian dari perjuangan bangsa harus dijadikan visi dan semangat dasar pengelolaan sepakbola Indonesia. Manifestasi perjuangan itu tentu tidak sama dengan masa lalu. Pada saat sepakbola telah menjadi industri dan batas negara serta identitas kebangsaan tidak lagi menjadi kendala untuk lalulintas pemain profesional, nasionalisme dalam konteks sepakbola tentu tidak dapat disempitkan menjadi sikap anti asing. Pengelolaan kompetisi yang profesional, mengikis hal kontraproduktif (seperti; isu mafia bola, judi bola dan sebagainya), komitmen pada pembinaan usia dini, kebijakan yang melindungi praktisi sepakbola dalam sisi kesejahteraan dan hak-hak lainnya merupakan implementasi nasionalisme kekinian dalam dunia sepakbola. Muaranya, tentu ada pada prestasi timnas dan klub sepakbola Indonesia di ajang internasional serta menjadikan sepakbola sebagai duta negara bangsa.

Kedua, federasi (PSSI) harus lebih merefleksikan dirinya sebagai organisasi sepakbola daripada birokrat sepakbola, bukan pula seperti mengelola organisasi kemasyarakatan (ormas) apalagi partai politik. Kesadaran ini penting mengingat godaan untuk menyalahgunakan kekuasaan sebagai birokrat sepakbola untuk menggapai kepentingan diluar sepakbola sangat kuat.

Kedua, pemilahan secara tegas antara sepakbola amatir dan profesional. Sebenarnya pemisahan itu pernah dilakukan pada 1979 hingga akhir 1990an melalui perguliran liga semi profesional bernama Liga Sepakbola Utama (Galatama), sedangkan tim amatir dilakukan melalui turnamen perserikatan. Pada dasarnya amatir dan profesional adalah dua entitas berbeda, dan menjadi rancu ketika dicampur adukkan.  Karena itu, perlu dipertimbangkan kembali untuk memisahkannya demi pembinaan sepakbola nasional, bukan untuk dihadapan secara vis-à-vis, namun baik profesional maupun amatir harus memperoleh perhatian yang sama.

Ketiga, peningkatan kualitas sumberdaya melalui sport science. Kemajuan teknologi dan pengetahuan harus dijadikan sebagai metode dalam pembinaan olahragawan, termasuk sepakbola. Semua aspek dalam dunia olahraga misalnya, pola pelatihan, penghitungan gizi olahragawan, strategi permainan, membaca kekuatan lawan tanding dan sebagainya dapat dikalkulasi melalui teknologi. Hal-hal diluar aspek pengetahuan dan teknologi sepatutnya dibuang jauh, misalnya menggunakan jasa supranatural dalam konteks pembinaan sepakbola.

Suara Daerah

Mengelola klub sepakbola, lebih khusus klub sepakbola profesional tidak mudah. Apalagi di kota kecil di daerah, misalnya Bojonegoro. Kecintaan dan fanatisme pada sepakbola tidak cukup untuk menjadi modal pengelolaan sebuah klub sepakbola profesional (atau  ingin profesional) seperti Persibo. Untuk memenuhi syarat profesional sesuai kriteria AFC (Asian Football Confederation), misalnya ketentuan adanya rencana pengembangan bisnis, pengelolaan keuangan termasuk proyeksi pendapatan, jaminan penggunaan stadion, pengelolaan organisasi dan sumberdaya, fasilitas klub dan sebagainya merupakan syarat-syarat yang tidak dapat dipenuhi dengan mudah.

Dukungan suporter yang luarbiasa menunjukkan kecintaan masyarakat pada sepakbola sekaligus memperlihatkan potensi pasar jika dilihat dalam perspektfif bisnis. Namun, hal itu belum cukup ampuh untuk mengundang investor berbisnis dalam sepakbola. Hal lainnya, konsekuensi dari strategi pembangunan di masa lalu yang difokuskan pada kota-kota besar menyebabkan arus finansial tidak banyak yang terdistribusi ke kota-kota kecil, semakin menyulitkan peluang masuknya investor. Iklim sepakbola yang belum ramah terhadap investasi (konflik internal, isu mafia bola, kerusuhan suporter dan sebagainya) menambah daftar negatif investasi dalam sepakbola.

Tantangan tersebut tidak untuk diratapi, tapi harus disikapi secara profesional. Optimalisasi sumberdaya yang tersedia, efisiensi dalam segala lini, disiplin ketat dalam pengelolaan finansial, dan fokus pada target kerja merupakan sikap profesional yang dapat menjawab tantangan tersebut. Sebagai klub profesional memang tidak bisa mendapatkan bantuan dana APBD, namun bukan berarti tidak ada cara lain. Dalam konteks ini, sebenarnya pemerintah daerah (misalnya Pemkab Bojonegoro) dapat berkontribusi melalui penyertaan saham di Persibo. Bagaimanapun, klub adalah ikon daerah.  Prestasi klub juga akan membawa nama daerah. Hal lainnya adalah mengelola hubungan yang saling memberikan manfaat dengan suporter. Dukungan itu harus dapat dikelola secara profesional sehingga tidak merugikan klub maupun suporter itu sendiri. Manajemen klub juga harus dapat memberikan nilai tambah bagi suporter, misalnya kemudahan akses dan kenyamanan untuk menonton pertandingan sepakbola, pengelolaan merchandise atau bahkan sampai sharing saham kepemilikan klub atau kerjasama mata rantai bisnis lainnya dalam sepakbola sehingga rasa memiliki klub pun juga semakin besar.

Selain itu, komitmen dan konsistensi dari semua pegiat sepakbola, termasuk federasi, dalam memperbaiki tata kelola sepakbola nasional menjadi hal fundamental. Jika tidak, reformasi Sepakbola di Indonesia laksana nasib Sisipus, sebagaimana dikemukakan Albert Camus dalam the Myth of Sisyphus, yakni melakukan satu pekerjaan yang absurd dan penuh sia-sia.

……………………………………………….

Pengurus Persibo dan Ketua Fraksi Partai Gerindra DPRD Bojonegoro

 

By | 2017-12-26T21:15:58+00:00 November 18th, 2017|Gagasan, Headline|0 Comments

About the Author:

Leave A Comment

%d bloggers like this: